Sunday, December 24, 2006

Alhamdulillah, Hari Ini Kami 10 Tahun


Hari ini (14 Des) sepuluh tahun lalu.

14 desember 1996. Saya Syaifuddin bin Sayuti Irfan resmi menikahi Siti Komsiah binti Wardoyo, di desa Cengkok, Nganjuk Jawa Timur. .

Pernikahan yang bersahaja. Karena kami memang menggelar seadanya, dengan dihadiri mayoritas keluarga kedua belah pihak dan tetangga dekat.

Tak terasa waktupun berjalan. Satu, dua dan tiga kurcaci hadir diantara kami. Mereka menghiasi hari-hari kami. Terkadang melelahkan dengan aneka celotehan mereka, tapi lebih banyak menyenangkan. Bersama istri dan tiga kurcaci kami arungi hari-hari penuh tawa dan air mata.

Kini si sulung Muhammad Ihsaan Ramadhan, bulan depan 9 tahun. Si tengah Nabila Khairunnisa 5,5 tahun. Dan si bungsu Nisrina Fatin Humaida 2,5 tahun.



Hari ini kami 10 Tahun

Mencapai angka 10 dalam pernikahan bagi kami adalah prestasi tersendiri. Apalagi di 'luar sana' gonjang-ganjing berita perceraian nyaris tiap hari kami lihat dan dengar. Hal-hal semacam itu justru menguatkan kami.

Kalau ada pertengkaran, kami selalu ingat: kami hidup tidak hanya berdua, kami memiliki anak-anak, keluarga besar dan tentunya .....masa depan!

Jika ada yang bertanya apa sebenarnya rahasia 10 tahun kami? Hmmm...kepercayaan dan mau berkorban. Maknanya memang luas, tapi itulah yang kami pegang teguh. Selalu mau berkorban menyisihkan kesenangan pribadi demi keluarga.

Jika dalam 10 tahun pertama ini masih banyak kekurangan dan janji yang belum terwujud, bagi saya itu adalah bagian dari perjuangan hidup. Insya Allah, kami akan upayakan semuanya menjadi mungkin.

Saya adalah lelaki yang sangat beruntung. Dikaruniai seorang wanita solehah dan anak-anak yang manis, cerdas dan lucu. Saya ingin terus menjadi orang yang beruntung, bukan hanya 10 tahun saja, tapi terus selamanya. Selama Allah menghendaki.

Terima kasih Allah, hanya karena KAU-lah semua ini mungkin.

Terima kasih pula pada para orang tua, kakak, adik, keluarga besar, dan teman-teman. Kami bisa melalui ini semua diantaranya berkat do'a dan restu kalian.

Kami masih ingin 10 tahun kedua, ketiga, keempat dan selamanya.....

Tuesday, September 05, 2006

Saat Kabar Kematian Menyapa

Belakangan ini berita kematian begitu menyita perhatian saya. Memang sebagian besar bukan orang terdekat saya. Namun siapapun dia, membuat saya merenung mengenai kematian. Ternyata kematian begitu dekat dengan hidup. Bahkan antara kematian dan hidup beda-beda tipis.

Dimulai dengan kabar meninggalnya bunda mas Eko yang saya baca hanya beberapa saat setelah ibu saya pulang menginap di rumah kami di Kranggan. Terharu membaca postingan mas Eko. Terharu akan perhatiannya yang sedemikian besar terhadap ibunda, hingga akhir hayatnya. Apakah saya sudah memperhatikan ibu? Menetes air mata saya.

Kemudian kabar datang dari Hagi, adik kelas saya di kampus dulu. Kami kebetulan tak pernah bertemu sejak saya lulus tahun 1995 lalu. Tapi belakangan saya dan dia saling ‘jenguk’ di MP. Kematian ibunda Hagi juga menyadarkan saya, betapa kesehatan orang terkasih kita sangat bernilai. Hagi dalam postingannya sempat ‘agak menyesal’ –sorry kalau saya tak salah—mengapa kanker stadium lanjut baru ia ketahui belakangan.

Saya katakan melalu PM padanya, tak perlu menyesali yang sudah digariskan ALLAH. Dalam perbincangan by phone sy tak kuasa banyak bercakap, karena begitu emosional ikut merasakan kehilangan dia –ini salah satu kelemahan saya, tak bisa bercakap banyak saat mendengar berita kematian--.

Saya jadi teringat ibu yang insya Allah tahun ini akan pergi ke tanah suci untuk berhaji. Ibu saya punya kendala dengan kakinya, rematiknya cukup parah. Bahkan kalau sedang kumat, kakinya bengkak dan tak kuat berjalan. Saya membayangkan bagaimana di tanah suci nanti kalau ibu sakit. Ingin rasanya mendampingi ibu disana…

Tapi sabtu lalu saat ibu manasik di asrama haji Pondok Gede, saya lihat meski kelelahan ibu punya semangat luar biasa. Keinginan ibu yang kuat untuk bertamu di rumah Allah, mengalahkan semua kendala kesehatannya. Saya berdo’a semoga di tanah suci nantinya, ibu tak menghadapi kendala apapun.

Kemudian hari Jum’at lalu, satu lagi kabar duka menghampiri saya, bunda Inong yang sempat koma karena asma, akhirnya dijemput malaikat maut. Saya tak mengenai dia, bahkan dia bukan pula network saya, tapi saya kerap berkunjung ke situs masaknya. Ah, jadi teringat istri di rumah.

Minggu, kabar duka datang dari Nozqa. Bhagol, calon suami yang bakal melamarnya meninggal dunia, dalam usia yang sangat muda. Saya tercenung membayangkan dalam posisi Nozqa, pasti berantakan hati dan pertahanan diri saya.

Sebelum kabar dari Nozqa, minggu pagi kabar duka dari kalangan dekat pun mampir, pakde Ariadi –kakak ipar ayah saya-- di Kediri wafat setelah berjuang dengan penyakit strokenya dalam 2 tahun terakhir.

Ah, kematian, ternyata begitu dekat dengan kita. Tak pernah tahu kapan maut bakal menjemput. Sudahkah kita bersiap?

Friday, July 14, 2006

[My Family] Menjadi Sabar Karena Nabila


Pelajaran terbesar sebagai orang tua adalah mengendalikan kesabaran.

Sebelum menikah saya termasuk orang yang gak sabaran, cepat naik darah, terutama jika memperdebatkan suatu masalah. Tapi setelah menikah, perlahan saya bisa menata diri dan mulai mengurangi sifat buruk itu. Suka tak suka peran istriku, Ikom sangat besar. Tapi pelajaran terbesar mengenai kesabaran, justru kudapat dari seorang gadis cilik, bukan WIL saya, tapi putri kedua kami Nabila.

Ya, dari Nabila Khairunnisa, nama lengkapnya.

Saat Nabila lahir melalui operasi Caesar, 30 Mei 2001 di RSAB Harapan Kita Jakarta, kami berharap ia menjadi perempuan yang kuat, tidak hanya secara fisik, tapi juga mentalnya. Sejak kecil dia cepat mencontoh berbagai hal, entah dari kawan mainnya, masnya, atau lingkungan sekitar kami tinggal di Kranggan.

Memang kadang ada kekhawatiran yang muncul dari aksi plagiat Nabila. Biasanya saya atau bundanya akan meluruskan. Tapi sejauh ini apa yang dicontoh masih bisa ditoleransi.

Keuntungannya, dia lebih cepat bicara dan berjalan dari kawan seusianya. Daya tangkapnya pun luar biasa. Mungkin ini ada hubungannya dengan kebiasaan menyanyi dan mendongeng yang kerap kami berikan sebelum tidur. Hampir tiap hari ia minta kami menyanyi dan mendongeng. Bahkan jika sang bunda mengajar dan saya libur, belasan lagu harus saya nyanyikan untuk membuat ia dapat tidur siang.

“Ayah …pelangi dong,” pintanya setengah memaksa suatu hari. Lalu meluncurlah semua memori masa kecil dulu tentang lagu yang luar biasa itu, yang mengajarkan anak-anak bersyukur pada ALLAH.

Kadang setelah belasan lagu kita nyanyikan dan ayahnya kelelahan, gadis kecil kami ini tak jua terlelap, justru makin ‘bersinar’.:)

Tapi, itulah Nabila, selalu ceria. Lelah seharian kerja akan sirna begitu melihat senyum manis dan pipi chubby-nya. “Ayah pulang…..ayah-yah-ayah-yah…yah….”, begitu biasa ia menyambut kedatanganku dari kantor.

Sebagai cucu kedua di keluargaku, kehadiran Nabila memang beda dengan masnya. Ia mampu merampas perhatian semua orang, tidak hanya seisi rumah, tapi juga tetangga, kawan di kantor, bahkan orang di mal atau angkot pun kerap mencubit pipinya yang ranum. “Ih, lucu…,” begitu ia biasa ‘dicubiti’ orang.

Yang paling menarik dari seorang gadis kami ini adalah sifatnya yang polos, terkadang mengejutkan. Saat ayahnya lelah sepulang kerja dan menghadapi banyak persoalan, biasanya ia menjadi penetral suasana. Emosi yang tengah memuncak akan langsung cair, begitu ia berkata, “Ayah marah ya sama kakak?” Seketika, marah itu pasti langsung buyar. Sejak itu sulit saya meluapkan amarah, jika wajah polos Nabila ada didekat saya. Saya tersadar, tak baik marah di depan anak-anak. Dan emosi pun dapat teredam karenanya.

Terima kasih sayang, ayah banyak belajar dari kepolosanmu.

ALLAH

ALLAH
Allah Maha Besar

Yang Lalu..

Tentang Aku

Gw orangnya simpel, suka makan, membaca beragam jenis buku, sastra apalagi. Suka beragam jenis musik, terutama yang easy listening. Senang juga nonton film, khususnya drama. Gw juga suka jalan-jalan.....