
ini cerita tentang ihsan, si sulung.
ihsan panggilannya, nama lengkapnya muhammad ihsaan ramadhan. lahir di jakarta, 18 januari 1998 saat bulan baik, ramadhan. nama ini sendiri konon berarti kebaikan dibulan ramadhan. kami berharap, ia mewarisi kebaikan rasul, tidak hanya di bulan ramadhan, tapi juga sepanjang hidupnya.
sedari kecil ihsan dimanja semua anggota keluarga kami. apalagi dalam keluargaku, ia adalah cucu pertama. terbayang kan bagaimana mbah kakung dan mbah putri memperlakukan dia. apa-apa buat cucu, begitu dalih bapak ibuku suatu kali.
kita ortunya hanya senyum-senyum saja mendengar, kadang bapak-ibuku lebih khawatir dibanding kami saat ihsan sakit atau susah makan. bahkan mereka yang memaksa kami membawa si sulung ke dokter saat sakit. tapi, ah biarlah, mereka (bapak-ibu) saat itu memang tengah memasuki fase baru dalam hidupnya, menjadi kakek nenek, status unik yang belum tentu dimiliki semua orang tua.
kehadiran ihsan dalam keluarga memang memberi keceriaan. saat itu kami masih menumpang di joglo, rumah ortu. saat itu pula ibu-bapak tengah dirundung duka dengan kasus hukum yang menimpa adik bungsuku, sehingga ia terpaksa berurusan dengan polisi. ihsan hadir pada saat tepat, ia bisa menghapus kesedihan yang dirasa kedua ortuku. entah apa jadinya jika saat itu tak ada ihsan. selain memohon pada ALLAH, saat itu kami tak cukup punya daya untuk menghibur kedua ortu. dan ihsan adalah penyempurna hidup kami.
waktu bergulir dengan cepat, kini si sulung sudah 8 tahun januari lalu. tak terasa, ia yang dulu bermanja-manja pada kami, kini mulai bisa mandiri. sholat 5 waktu, meski masih susah, kadang sudah mulai ia genapkan.
ia juga kini gandrung dengan komputer. padahal ayahnya baru mengenal komputer saat duduk di bangku sma. rupanya virus komputer handar, sepupunya, menular ke ihsan. tapi satu yang sulit dan belum bisa kutularkan, virus membaca. sesekali ia memang mulai membaca komik, tapi ia lebih tertarik dengan komputer.
sedari kecil ia juga suka bermain bola. bahkan pernah terlontar dari bibir mungilnya, ingin menjadi pemain bola. kalau sudah bermain bola, kadang lupa waktu dan mandi, yang membuat bundanya ngomel.
namun berbeda dengan sepupunya yang gila komputer namun minim kehidupan sosial, ihsan senang bermain dengan sebayanya. ia juga pandai memilih teman yang 'baik' menurut kriteria kami. ia tak akan nekat main jauh dari rumah, atau berkubang di got dekat mesjid al jihad-seperti yang beberapa kawannya lakukan. yang ia senang permainan biasa, kelereng, layang-2, mobil tamiya, lari-lari, dan sepeda.
sepeda, ah jadi ingat janjiku padanya. suatu kali aku pernah berucap akan membelikannya sebuah sepeda baru yang layak, karena sepedanya selama ini adalah hasil barter dengan tukang sepeda yang lewat depan rumah. ia agak kecewa karena janjiku diimbuhi embel-embel harus masuk 10 besar di kelasnya. waduh, suatu hal yang agak sulit dalam waktu dekat ia wujudkan. ia tak bodoh, tapi hampir semua kawan sekelasnya sama pandainya. tiap kali pembagian raport, ia selalu berselisih nilai sekian koma sekian dengan yang lain.
ah, andai saja sekolah tak dibebani dengan nilai! tapi aku janji, akan wujudkan janjiku soal sepeda ini dalam waktu dekat. aku tak mau dia menunggu terlalu lama hanya demi sepeda impiannya. ya ALLAH, mudahkan semuanya.....
