Sunday, February 26, 2006

PERANG UNGGAS




masih kuingat dendang masa kecil dulu. bercerita mengenai keriuhan sebuah pesta muda mudi. memang sangat 'barat' aroma lagu itu, pesta antara nona dan jejaka. yang unik, dalam pesta disajikan hidangan bebek dan angsa. mungkin bukan gulai bebek peking atau sebangsanya. tapi itu cukup mematri ingatanku akan masa kecil dengan lagu nan riang itu.

aku tak tahu pasti apa sonata itu masih terus dilantunkan anak-anak kini. sebabnya bukan lantaran sulit mencari angsa atau bebek di jalanan. bukan. tapi belakangan semenjak virus flu burung merebak, unggas seperti ayam, bebek dan semacamnya, menjadi sasaran pemusnahan. konon, dari hewan sejenis itulah virus H5N1 ditularkan ke manusia.

virus ini memang tak main-main. sejak ditemukan kematian yang diduga akibat virus ini di tangerang banten, nyaris tiap hari ada kabar warga yang terinfeksi FB. korban meninggal pun berjatuhan.

pekan ini pemda jakarta resmi menggelar perang terhadap unggas yang terinfeksi flu burung. kalau itu bertujuan memutus mata rantai penyebaran virus, kita pasti sekata seirama. tapi yang di lapangan justru sebaliknya. pemerintah seperti kebingungan. membantai semua unggas yang diidentifikasi terkena virus, hampir di semua wilayah. mengapa tak memprioritaskan unggas di wilayah yang sebelumnya dianggap sebagai cluster? bukankah itu lebih baik. bahkan lebih efisien, waktu maupun tenaga.

jadi tak perlu grasa grusu lagi menggelar sweeping unggas dan membinasakannya sebelum semua jelas. agar kita tak menyesal di lain hari dan anak-anak kita tak pernah lagi berdendang lagu indah itu.
.............
potong bebek angsa
masak di kuali
nona minta dansa
dansa empat kali
..............
(potong bebek angsa, nn)

Thursday, February 23, 2006

ANGKOT BOGOR

Geliat kota belum sepenuhnya terasa. Namun lalu lalang warganya mulai terasa sejak subuh. Satu yang pasti, gerak angkutan kota tak pernah surut disini. Saat itu bersama keluarga besarku, kami tengah mengejar waktu untuk mengantar wisuda istriku. Jalanan kota Bogor yang tak seberapa besar memaksa mobil pribadi harus pasang kewaspadaan ekstra. Meliuk ditengah jalan macet memang perlu talenta tersendiri. Tapi persoalannya bukan itu.

Macetnya jalanan kota hujan bukan karena banyaknya eksodus warga ibukota kemari. Tapi karena angkot. Ya, moda angkutan umum ini memang sangat perkasa. Dengan kepongahannya, angkot disini laksana raja. Ia ada di setiap sudut jalan, di pelosok kota. Nyaris tak ada sejengkal jalanpun yang luput dari deru angkot.

Angkot atau apapun itu, suka tidak suka sangat membantu warga, terutama mereka yang tak memiliki kendaraan pribadi. Anytime kita bisa mencegatnya, saat kita butuh. Jenis moda angkutan umum ini bisa didapati di manapun.

Sayangnya, pemerintah daerah tak rancak mengatur regulasi per-angkotan. Alhasil, besar angkot daripada moda angkutan lain. Kalau teratur, siapapun akan mendukungnya. Tapi, seringkali angkot menjadi musuh bersama warga. Menyebalkan, karena kerap berhenti di sembarang jalan, ngetem berlama-lama, ngobrol dengan sopir lain di jalanan. Huh!

Untuk soal satu ini, tak salah kita berguru dengan negeri seberang, yang juga memiliki beragam moda angkutan, Australia. Di Brisbane, yang luas kotanya tak jauh beda dengan Bogor, angkutan umumnya teratur. Meski jumlahnya banyak, mereka punya jadwal yang jelas, berhenti di tempat tertentu, dan tak mau jadi raja. Di sini tak ada kebut-kebutan sopir kejar setoran, tak ada adu klakson, dan tak ada makian antar pengemudi. Semuanya teratur.

Tuesday, February 21, 2006

VIVA VINA




Vina Panduwinata, boleh jadi bukan penyanyi terbaik negeri ini. Popularitasnya tak semenjulang Dian Piesesha atau Peterpan pada masanya. Album rekamannya juga tak pernah meledak jutaan kopi. Tapi dalam jagad musik nasional, nama Vina berdiri terpisah dari jajaran penyanyi lain, pun dengan diva pop junior yang belakangan muncul.

Dimasa jayanya, Vina punya magnet tersendiri dalam industri pop tanah air. Ia memiliki kekhasan, ditengah keseragaman lagu era Rinto harahap dan Obbie Messakh. Ia punya talenta menghibur yang luar biasa. Lagunya membius pendengarnya. Dengan lirik yang kadang menyentil, bermain-main, dan tahun ini Vina telah 25 tahun menghibur pendengarnya.

Konser Viva Vina pecan lalu membuktikan hal itu. Vina tak hanya penyanyi, ialah The Real Diva! Ia menciptakan banyak pengaruh, dalam lagu, gaya bernyanyi hingga berpakaian. Bila akhirnya memunculkan epigon-epigon, sesungguhnya disitulah keberhasilan seorang super star.

Di panggung Vina tak hanyan lihai bernyanyi. Tapi ia bisa menuturkan apa yang ada dibalik sebuah lagu. Ia bernyanyi sekaligus menjadi pencerita. Tak banyak yang memiliki talenta seperti Vina.

Dibalik itu semua, ada catatan dibalik konser tunggalnya kemarin. Vina ternyata telah berbeda dengan Vina yang dulu. Kualitas vokalnya menurun, jauh dari saat jayanya dulu. Usia ternyata tak bisa membohongi hal itu. Tapi Vina bisa menutupi kekurangannya dengan komunikasi yang intens dengan audiensnya. Viva Vina!

diujung kemarau panjang
yang gersang dan menyakitkan
kau datang menghantar berjuta kesejukan.....
kasih, kau beri udara untuk nafasku
kau beri warna bagi kelam jiwaku......
(vina, september ceria)

Saturday, February 18, 2006

HABIS PORNO TERBITLAH PLAYBOY



Suatu sore di sebuah toko buku, seorang remaja belasan tahun membolak balik halaman majalah. Rasa ingin tahunya meluncur begitu rupa, seiring robekan plastik penutup majalah. Pemilik toko memang sudah memagari pembaca majalah adalah si pembeli. Maka tak salah bila ingin mengintip isi majalah, jalan satu-satunya ya merobek plastiknya. Meski tak legal, tapi itulah faktanya!

Membaca memang masih menjadi barang mahal. Pun ketika menyeruak rencana penerbit majalah porno masuk ke Indonesia mereka berdalih akan melakukan kontrol ketat dalam penjualannya. Padahal., siapa sih yang bisa mengawasi? Di negeri ini terlalu mudah memperoleh segala sesuatu, bahkan yang terlarang sekalipun.

Ingat, narkoba jadi contoh nyata. Dulu, kita hanya membayangkan terbatasnya peredaran narkoba. Tapi apa yang terjadi sekarang? Bukan hanya inex atau mogadon yang mudah didapat pelajar sekolah, tapi narkoba kelas shabu-shabu pun kini mengintai kalangan usia yang masih rentan ini.

Sialnya, kita sepertinya tak hirau dengan segala hal itu. Semuanya bebas bersliweran di depan kita. Otoritas pemerintah tak nyata-nyata membatasi narkoba atau pornografi. Alhasil, tengoklah di lapak penjual koran di Jakarta, media porno bertebaran bak cendawan di musim hujan. Dengan seceng, kita sudah bisa menikmati gambar-gambar syur, tanpa harus membeli Playboy yang nantinya dijual 50 rb.

Maka, larang tak hanya Playboy, tapi semua media porno. Titik.

Burung Flu



Entahlah, ada apa gerangan dengan dunia ini. Penyakit tak henti mendera, bencana tak jua mereda. Yang paling bikin bergidik, avian influenza alias flu burung. Virus yang berasal dari hewan unggas dan babi, belakangan banyak ditemui di Asia. Indonesia yang belakangan didatangi FB, ternyata perkembangannya begitu cepat. Hampir tiap hari kudengar ada korban, entah dengan status dugaan atau positif FB masuk rumah sakit. Dalam sebulan terakhir sudah beberapa nyawa melayang akibat FB.

Masyarakat kita seperti tak hirau dengan bahaya yang mengancam akibat FB. Mungkin karena minimnya sosialisasi, kurangnya perhatian pemerintah. Heran memang dengan pemerintah kita, baru bertindak kalau jatuh korban. Itupun gak maksimal. Padahal rakyat kan mesti dilindungi. Rakyat harus terlindungi hak beroleh pengobatan, kesehatan.

Sungguh nikmat membandingkan dengan perhatian negara maju terhadap warganya. Bahkan warga pendatang sekalipun. Seorang kawan bercerita, sesampainya di bandara Inggris, ia langsung didata kesehatannya. Kebetulan ia hamil saat tiba di Inggris mendampingi suaminya seorang jurnalis. Setibanya di rumah, seorang petugas medis langsung mendatanginya, memastikan ia sehat tak kurang suatu apapun. Wah, hebat!

Tak adil memang membandingkan dengan negara maju dalam hal pelayanan kesehatan. Paling tidak, berikan warning, penyuluhan yang jelas, hingga warga merasa diperhatikan! Informasi sekecil apapun--bukan propaganda lho-- sangat penting bagi warga.

ALLAH

ALLAH
Allah Maha Besar

Yang Lalu..

Tentang Aku

Gw orangnya simpel, suka makan, membaca beragam jenis buku, sastra apalagi. Suka beragam jenis musik, terutama yang easy listening. Senang juga nonton film, khususnya drama. Gw juga suka jalan-jalan.....