
masih kuingat dendang masa kecil dulu. bercerita mengenai keriuhan sebuah pesta muda mudi. memang sangat 'barat' aroma lagu itu, pesta antara nona dan jejaka. yang unik, dalam pesta disajikan hidangan bebek dan angsa. mungkin bukan gulai bebek peking atau sebangsanya. tapi itu cukup mematri ingatanku akan masa kecil dengan lagu nan riang itu.
aku tak tahu pasti apa sonata itu masih terus dilantunkan anak-anak kini. sebabnya bukan lantaran sulit mencari angsa atau bebek di jalanan. bukan. tapi belakangan semenjak virus flu burung merebak, unggas seperti ayam, bebek dan semacamnya, menjadi sasaran pemusnahan. konon, dari hewan sejenis itulah virus H5N1 ditularkan ke manusia.
virus ini memang tak main-main. sejak ditemukan kematian yang diduga akibat virus ini di tangerang banten, nyaris tiap hari ada kabar warga yang terinfeksi FB. korban meninggal pun berjatuhan.
pekan ini pemda jakarta resmi menggelar perang terhadap unggas yang terinfeksi flu burung. kalau itu bertujuan memutus mata rantai penyebaran virus, kita pasti sekata seirama. tapi yang di lapangan justru sebaliknya. pemerintah seperti kebingungan. membantai semua unggas yang diidentifikasi terkena virus, hampir di semua wilayah. mengapa tak memprioritaskan unggas di wilayah yang sebelumnya dianggap sebagai cluster? bukankah itu lebih baik. bahkan lebih efisien, waktu maupun tenaga.
jadi tak perlu grasa grusu lagi menggelar sweeping unggas dan membinasakannya sebelum semua jelas. agar kita tak menyesal di lain hari dan anak-anak kita tak pernah lagi berdendang lagu indah itu.
.............
potong bebek angsa
masak di kuali
nona minta dansa
dansa empat kali
..............
(potong bebek angsa, nn)



