Sunday, April 30, 2006

Pram


Sabtu malam, Kranggan hujan lebat saat sebaris sms dari seorang kawan masuk. "Telah meninggal, Pramoedya Ananta Toer, di RS Carolus. Jenazah disemayamkan di utan kayu, Jakarta. hubungi ....." Ups, aku terperangah sejenak, tapi langsung maklum, ya mungkin sudah takdir illahi, akhirnya bung Pram pergi.

Seperti biasa, insting jurnalisku keluar, semua kawan yang ada di kantor ku sms, untuk memastikan liputan mengenai tokoh besar ini tak lewat.

Minggu subuh dengan koran di tangan dan tv di hadapan, kok tak ada berita duka itu? Apa begitu tak berharganya bung Pram bagi media kita? Nyatanya, bukan itu. Pram baru benar-benar wafat minggu pukul 9 pagi.

Aku bukan pengagum berat Pram, tapi aku kagum dengan karya-karya sastranya yang mendunia. Bahkan ia lebih terkenal di luar negeri daripada di negerinya sendiri. Ia pernah dinominasikan sebagai penerima hadiah nobel sastra. Terlepas dengan ideologinya yang membuat ia harus dipenjara di pulau Buru. Karya Pram sebenarnya sangat manusiawi. Ia adalah sastrawan yang detil melihat persoalan sosial.

Aku ingat, perkenalanku pada Pram terjadi saat bukunya dibredel penguasa Orde Baru. Saat itu aku duduk di SMA 70, sekolah yang letaknya hanya bersebelahan tembok dengan gedung kejaksaan agung, institusi yang membredel buku Pram. Karena tak ingin dianggap subversif, kami bungkus buku Bumi Manusia-Pram dengan lembaran kalender. Hihi….kalau ingat itu jadi pengen ketawa.

Kubaca kata per kata, tak ada yang aneh menurutku. Indah malah. Aku menganggap Pram bisa bertutur dengan demikian indahnya, bahkan mengenai kepedihan sekalipun. Aku yang hidup jauh dari era-nya Pram dapat menangkap semua kegalauan Pram.

Terakhir kabar mengenai Pram kudapat di edisi pertama Playboy Indonesia. Ada wawancara panjang mengenai dirinya di media kontroversial itu. Tak salah PB menjadikannya tokoh pertama yang ditampilkan, karena ia adalah satu dari sedikit sastrawan dengan pencapaian dunia, yang lahir di Indonesia.

Selamat menuju keabadian bung Pram……..

Sunday, April 23, 2006

IBU


Tiba-tiba sore tadi aku ingat ibu. Perempuan yang mengandung dan melahirkanku. Padahal baru dua minggu tak jumpa. Ah, lagi keluar sensi-nya neh, pikirku. Mungkin karena hampir semua media sedang hangat-hangatnya membicarakan perempuan, maklum suasana hari Kartini. Tapi, membicarakan perempuan memang tak akan bisa menafikan peran seorang ibu, siapapun dia.

Mengingat ibu adalah terbayang perjuangannya. Perjuangan seorang perempuan yang dengan keihlasan hatinya merawat dan membesarkan ketiga anaknya, dengan cinta, air mata dan kesungguhan hati.

Ibuku, Siti Sopiyah namanya. Dia adalah perempuan Jawa sederhana, yang hanya sempat mengenyam pendidikan setara SD. Meski hanya lulus SD, tapi semangatnya mengantarkan anak-anaknya meraih pendidikan luar biasa. "Ibu ndak ingin mas (begitu ibuku memanggilku hingga kini) nanti hidupnya susah. Mas harus lebih dari bapak-ibu," ujarnya saat kukecil dulu. Harapan sederhana yang sarat makna.

Banyak yang sudah dilakukan ibu. Tapi, jujur belum banyak yang aku lakukan untuk ibu. Entah dengan apa aku membalasnya.

Itu mengapa saat kangen ibu, aku selalu teringat lagu "Ibu" dari Iwan Fals. Ini satu-satunya lagu Iwan Fals yang bisa membuatku menangis. Terbayang semua perjalanan kami dalam keluarga, sejak kami kecil yang nakal-nakal, hingga kini kami bertiga telah memberi 6 cucu bagi bapak-ibu. Simak lagu itu...

ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu kumembalas…ibu
ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur pada masa kecil dulu
lalu do’a-do’a baluti sekujur tubuhku
dengan apa membalas
ibu…..ibu….
(“IBU” , Song by Iwan Fals)

Saturday, April 22, 2006

Ultah si bungsu, Ninis



Ini cerita saat gadis kecil kami, Ninis ultah ke-2, hari Senin (17 April) lalu.

Karena jatuh hari senin, sang bunda sejak minggu siang sudah wanti-wanti agar aku beli kue taart buat si kecil. Kami memang tak berencana membuat pesta, cukup syukuran bersama keluarga kecil kami. Mau diadakan di rumah ibu di Joglo, waktunya kurang tepat. Karena baru dua pekan silam aku dan 2 keluarga adikku menginap di Joglo. Ya, sudah bikin pesta kecil saja.

Sepulang kerja, kusempat-sempatkan ke Holland Bakery di jalan alternatif cibubur yang kulalui dari kantor. Karena bingung gak menemukan black forest kecil kesukaan anak-anak, pilihan pun jatuh pada tiramisu ukuran sedang. Belum sampai rumah, istriku menelpon, tanya apakah aku sudah beli kue apa belum.

Rencananya Minggu malam kita akan tiup lilin dan do'a bersama. Eh, sampai rumah dua dari 3 anak sudah tertidur, batal deh pesta kejutannya.

Senin subuh, usai shalat, semua sudah menunggu di ruang tamu rumah kami yang mungil, dan pesta pun dimulai. Ninis minta tiup lilinnya diiringi "lagu anak-anak....," seru bibir mungilnya. Maksudnya lagu ultah anak-anak kesayangannya.

"Panjang umurnya....panjang umurnya....," begitu Ninis kecil menirukan suara dari CD. Usai tiup lilin dan berdo'a, semua tertawa lepas seolah kami baru menggelar pesta besar. Padahal hanya sejenak, kurang dari 30 menit, soalnya usai pesta sang bunda harus ke kampus untuk mengajar. Sementara mas dan kakaknya harus mandi pagi, kemudian sekolah.

Tahun ini kami sepakat memberi kado guling boneka untuk Ninis. Ini permintaan Ninis sendiri saat terakhir kami ajak belanja ke Cibubur. Waduh, senang lho dia mendapat kado istimewa itu. Tak sekalipun guling itu lepas dari jangkauan tangan mungilnya...

Selamat ulang tahun sayang....

Sunday, April 09, 2006

Bye Bye Republik BBM



baru saja kumasuki lembar-lembar dunia maya, setelah sehari berlibur di rumah ibu di joglo. tak ada informasi luar biasa yang terlewat satu hari, tapi bukan berarti tak ada yang penting. satu yang terpaksa memaku mataku di layar pc adalah berita detikcom soal bakal berhenti tayangnya republik bbm di indosiar. hah!

setengah terperangah setelah membaca alasan bakal tak tayangnya acara itu. semua masih abu-abu, samar-samar, tak jelas. lagi-lagi ingatanku melayang ke suasana pembredelan majalah tempo beberapa tahun silam. hanya karena memuat berita mendalam soal pembelian kapal bekas oleh yang terhormat bapak habibie, akhirnya berujung dengan dibredelnya majalah yang sempat menjadi ikon media cetak di tanah air.

memang saat itu tak pernah ada alasan lugas mengapa tempo dibredel. yang jelas saat itu adalah penolakan berbagai pihak terhadap aksi pembredelan itu. kasus ini suka tidak suka, kemudian juga menjadi embrio lahirnya gerakan pro-demokrasi hingga berujung tumbangnya orde baru.


kembali ke republik bbm. sebenarnya tak ada yang terlalu istimewa dengan tayangan ini. format acara ini adalah parodi dunia politik nasional. deny 'p-project' berperan sebagai host yang mengatur lalu lintas acara. taufik savalas berperan presiden republik bbm, dan kelik pelipurlara sebagai wapres.

memang guyonan mereka kerap menyentil aparat pemerintahan 'negeri sebelah', seperti wapres yang gayanya dipaksakan mirip dengan wapres kita. terus, sindiran mengenai dunia pendidikan yang sangat kena, memang kadang membuat 'merah' telinga pembuat kebijakan. tapi diluar itu semua, ini hanya guyonan, parodi kehidupan di negeri bbm. kalau akhirnya menyentil, siapapun yang melihatnya diharap tak usah usil. apalagi dengan mengistirahatkan acara pendidikan politik yang langka ini.

saya khawatir kalau benar acara ringan macam Republik BBM ditutup hanya karena alasan ada pejabat yang tersentil, akan jadi preseden buruk bagi demokrasi kita yang sama-sama tengah dibangun. toh, isinya cuma sentilan, tak bermaksud menghina siapapun. semoga ini hanya kekhawatiran saya saja dan senin malam kita masih bisa tertawa dalam kegetiran di depan layar kaca.

Playboy


akhirnya si kepala kelinci itu terbit juga. sebagai pemerhati media, saya termasuk yang ikut deg-degan dengan tampilan playboy indonesia, seperti apakah? apa persis seperti playboy edisi internasional, dengan ketelanjangan yang sedemikian rupa? atau akan dibungkus dengan "cita rasa indonesia?"

ah, berharap seperti itu sama saja memaknai kepornoan dengan cara baru. lelaki telanjang dada bisa porno, tapi bisa juga tidak. dada pere yang menyembul sedikit, juga bisa pro kontra kita menyikapinya.

persoalannya bukan disitu. kita seringkali mengakali 'aturan' yang kerap dibuat untuk membuat harmoni hidup ini. porno tak porno sudah dibuat, sesuai dengan etika yang berlaku disini. tapi, selalu kita berhasil membuat semua aturan tak berdaya.

pun dalam hal kepornoan. sudahlah, terlalu banyak media yang hanya mengumbar syahwat. entah itu popular, me, atau tabloid 1.500-an di pinggir jalan. cukuplah sampai disitu, jangan racuni anak-anak kita dengan dalih yang ini lebih beretika, lebih berkelas dibanding yang lain, tidak akan ada nudity, semua masih sopan...

ah, dalih. lagi-lagi kita senang berdalih. apa kita akan tetap berdalih melihat anak-anak kita bergaya hidup sex bebas, hamil di luar nikah, digagahi orang lain???

jangan sampai nanti kita tak mampu mencegah semua kebusukan, hanya karena kita ogah capek menyuarakan penolakan pada media sejenis playboy. sekarang playboy bebas terbit dan mudah dicari di pasaran. entah esok, mungkin akan ada yang lebih 'seram' dari playboy, macam playgirl, hustler, atau apalah.... huh.

ALLAH

ALLAH
Allah Maha Besar

Yang Lalu..

Tentang Aku

Gw orangnya simpel, suka makan, membaca beragam jenis buku, sastra apalagi. Suka beragam jenis musik, terutama yang easy listening. Senang juga nonton film, khususnya drama. Gw juga suka jalan-jalan.....